Media Berbagi

Mendesak! Bantu Dai Pedalaman Miliki Rumah Dakwah

Rp 1.215.000

Donasi Terkumpul

27 hari

Sisa hari

Deskripsi

LELAKI berbaju koko putih yang sedikit lusuh itu kembali beraktifitas seperti biasa. Pagi itu, ia baru saja menuntaskan ibadah shalat shubuh, membaca tawajjuhat rutin, dan mengajar santri santrinya.

d67c998b-dbd5-11ec-9f19-92781849c43a_84228FC10DEEE5B6.png?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

Anak muda 25 tahun itu adalah Ustadz Abdul Fitrojan Busra. Dai muda yang mengabdi di desa Mburak, Dusun Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

cb962a29-dbd4-11ec-9f19-92781849c43a_FA5F980575366272.png?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

Sebagai seorang sarjana, Fitrojan bisa saja memilih mencari kerja di kota. Apalagi bidang yang diambilnya adalah jurusan pendidikan, yang memungkinkannya menjadi guru yang bergaji tetap.

Tetapi, pria kelahiran Alor yang menyelesaikan studinya Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam (STIT-HIBA) malah memilih jalan yang langka. Di saat anak muda sarjana seusianya umumnya sibuk melamar kerja, ia malah masuk ke pedalaman yang nihil fasilitas, "Ini adalah panggilan dakwah," kata Fitrojan.

Debut dakwah Fitrojan dimulai dikala ia telah berhasil menuntaskan pendidikan tingginya di kampus STIT HIBA. Setelah resmi menyandang gelar sarjana pendidikan, Fitrojan langsung ditugaskan.

Tidak lama sebagai relawan dakwah, Fitrojan lantas kembali ditugaskan, namun kali ini bukan di Batam namun ke Kepulauan Anambas. "Namun karena ibu saya sakit, saya minta izin untuk sementara waktu dekat dengan ibu di Alor," kata Fitrojan.

Sambil merawat ibu, Fitrojan menyempatkan silaturahmi ke ustadz-Ustadz yang ada di Hidayatullah Kupang. Hingga akhirnya dia diminta tugas di Kupang yang memungkinkan dirinya bisa tetap dekat dengan orangtua tersayang.

Barulah setelah sang ibu kondisinya semakin membaik dari sakitnya, Fitrojan kembali menerima tugas baru. Dari Kupang, Fitrojan ditugaskan lagi untuk merintis dakwah keumatan di pedalaman Labuan Bajo tepatnya di Mburak.

d393f5d9-dbd6-11ec-9f19-92781849c43a_B4B32FE81AEBE26D.jpg?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

b40b77a2-dbd5-11ec-9f19-92781849c43a_87AD0BD5E0150248.jpg?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

Awal mula menginjakkan kakinya di Mburak, Fitrojan sedikit kaget dengan kondisi lahan yang masih hutan dan jauh dari keramaian. Untuk menjangkau lokasi tersebut dibutuhkan perjalanan sekitar 55 menit dari bandara Labuan Bajo, melewati jalan becek penuh dengan lumpur.

Karena tak ada bangunan memadai yang bisa ditempati, Fitrojan memulai dakwahnya dengan mendirikan bilik kecil untuk tempat tinggal berukuran 3x4 meter. Di waktu yang sama ia juga membangun disamping biliknya itu sebuah teras kecil berukuran 3x4 yang kelak gunakan sebagi mushalla sementara. "Tempat ini yang kita gunakan sebagai untuk mengajar anak-anak mengaji," ujarnya.

Bilik ini amat sederhana. Namun Fitrojan amat bersyukur karena bisa berteduh dikala hujan dan panas. Ia juga secara aktif bersilaturahmi kepada masyarakat sekaligus mengutarakan maksudnya atas penugasan dakwah tersebut. Masyarakat pun menyambut dengan gembira.

Sebagai dai, Fitrojan tidak melulu berceramah dan mengajar anak anak kampung mengaji Al Quran setiap hari. Fitrojan juga terlibat aktif dalam kegiatan masyarakat. Ia rajin bersilaturahmi, termasuk membantu masyarakat yang membutuhkan tenaganya.

7dbd7ab7-dbd6-11ec-9f19-92781849c43a_915A6B0BE911DFA0.png?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

"Selain dakwah dan mengajar, kegiatan sehari di sini ya babat rumput. Kadang ada warga yang ngajak ke sawah walaupun saya tidak bisa kerja di sawah, yang bisa saya lakukan itu angkat bibit kasih mereka. Kadang mereka ada kerja, mereka suruh bantu. Buat campuran segala macam gitu. Alhamdulillah warga warga di sini baik-baik semua," kata pria bujangan ini.

Fitrojan mengaku amat bersyukur Alhamdulillah karena keberadaannya di Mburak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. "Untuk makan minum ada Hamba Allah yang setiap Minggu antar makanan ke sini, terus sayur semuanya sudah dipersiapkan," katanya terharu.

Kendati demikian, daerah tempat tugasnya tersebut rupanya menjadi salah satu kawasan rawan banjir. Kalau terjadi hujan walaupun hanya sebentar biasanya menyebabkan banjir. Kondisi ini yang diantaranya membuat Fitrojan agak was was apalagi dia hanya tinggal di bilik dari bahan kayu bekas.

"Tapi Alhamdulillah semua itu aman saja karena kita menyerahkan semua hanya kepada Allah," tandasnya.

Kehadiran Ustadz Fitrojan pun bagai gayung bersambut. Warga yang umumnya merupakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah, namun mereka senantiasa guyub, rukun, dan memancarkan kebahagiaan.

 

Haji Safruddin, pewakif lahan yang diperuntukkan menjadi pusat pendidikan dan dakwah berupa pesantren tersebut, pun mengaku amat berbahagia tahahnya tersebut bisa dimanfaatkan untuk jariyah di jalan Allah.

f4557fc7-dbd6-11ec-a817-da2e8c96cb40_7121A8936444C61D.jpg?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

04dae368-dbd7-11ec-9f19-92781849c43a_8A57586D5908D5D1.jpg?auto=compress,format&cs=tinysrgb&fm=pjpg

Kata Safruddin, dengan kehadiran Ustadz fitrojan dan dai lainnya di sini, mereka telah berkorban melepaskan keluarganya, meninggalkan kampung halaman dan kerabatnya, masa mudanya, dan kedua orang tuanya.

"Dia berbakti kepada masyarakat, membuat saya tidak bisa menahan air mata ketika melihatnya. Saya selalu berdoa kepada Allah agar pembangunan di hutan itu segera terselesaikan. Sehingga akan banyak generasi Labuan Bajo yang dekat dengan agama Islam," kata Safruddin.

Senada dengan itu, Aya Faris, salah seorang warga yang juga orangtua santri yang dibina Ustadz Fitrojan, mengaku amat bersyukur kini di kampung mereka ada guru ngaji dan ustadz yang membimbing masyarakat.

Faris mengatakan dirinya bersama masyarakat berharap Fitrojan bisa terus mengabdi di kampung itu. Dia juga selalu berdoa kelak Fitrojan dapat mewujudkan cita citanya untuk menghadirkan pesantren di sini yang memberikan kegembiraan bagi kami warga muslim di sini. "Saya berharap anak-anak kami bisa menguasai Al-Qur’an dan bisa mengajarkan kami orang tuanya kedepan," harapnya.

Apa yang diikhtiarkan oleh Ustadz Fitrojan juga mendapat dukungan dari tokoh sesepuh Syakar Abdul Jangku yang juga Ketua MUI Kabupaten Manggarai Barat.

Syakar mengatakan, penyebaran dan pembinaan umat Islam di NTT menjadi sangat penting dan strategis. Ia pun mengapresiasi para dai yang ada karena memiliki dedikasi yang luar biasa untuk membangun negeri," ujarnya.

Ia pun merasa terharu kini di Mburak, Kecamatan Komodo, Labuan Bajo, telah tumbuh cikal bakal pesantren sebagai pusat dakwah dan pendidikan pencerahan umat. "Kehadiran pesantren ini sudah sangat luar biasa bagi kami," kata Syakar seraya berdoa semoga Ustadz Fitrojan segera memiliki tempat tinggal yang memadai.

Ayo, mari dukung Ustadz Fitrojan agar ia memiliki tempat tinggal yang layak, sekaligus menjadi tempat bersemainya generasi Islam yang kelak hadir memberi maslahat yang meluas untuk umat, agama, negara, dan bangsa.

***

Dukungan kalian dapat disalurkan melalui:

1. Klik tombol "DONASI SEKARANG"

2. Isi nominal donasi yang ingin diberikan

3. Pilih metode pembayaran

4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran

Tidak hanya berdonasi, teman-teman juga bisa membantu dengan cara menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak orang yang ikut membantu

Kabar terbaru

Kabar Terbaru

Belum ada kabar terbaru di program ini

Donatur

ME
Mega

1 bulan yang lalu

Rp100.000
HA
Hamba Allah

1 bulan yang lalu

"Semoga syiar islam yang diajarkan Nabi Muhammad dapat terus berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru dunia Aamiin"

Rp1.000.000
HA
Hamba Allah

2 bulan yang lalu

Rp15.000

Fundraiser

Donatur

Ayo ikutan berkontribusi pada program ini dengan menjadi fundraiser